Apakah mungkin seorang sayid, yang diyakini keturunan Nabi, sudi bekerja dan memuji penjajah Kristen? Kenyataannya: iya. Lagi pula, cucu dari Syaikh Abdurrahman Al-Mishri dan guru dari Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi alias Habib Kwitang itu bukan satu-satunya yang bersikap baik, hormat, dan kooperatif pada pemerintah kolonial.
Setibanya di lokasi tersebut, Habib Ali Al Habsyi yang merupakan keturunan dari Habib Ali Kwitang menyambutnya bersama Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani. Baca Juga: Timses Anies-Muhaimin, Prabowo-Gibran, Ganjar-Mahfud Ungkap Persiapan Debat Pilpres 2024.
Habib Kuncung lahir di Gurfha, Hadhramaut, Yaman pada 26 Syaban 1254 H. Beliau belajar ilmu kepada ayahanda beliau Habib Alwi Al-Haddad dan belajar kepada Habib Ali bin Husein Al-Haddad. Di Indonesia beliau belajar kepada Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (ayah Habib Ali Kwitang yang makamnya memancarkan air ketika hendak digusur
Tahun 1919, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, pelopor peringatan Maulid dengan membaca Simthud Durar, wafat di Jatiwangi. Sebelum wafat ia berpesan kepada Habib Ali Al-Habsyi agar melanjutkannya. Maka sejak 1920 Habib Ali Kwitang mulai menggelar Maulid dengan membaca Simthud Durar di Tanah Abang.
.
keturunan habib ali kwitang